Just My Diary

September 2, 2006

Panen Mangga

Filed under: Coretan

Pagi-pagi aku sudah memanjat pohon mangga di depan rumah. Pohon mangga tersayang karena cuma satu-satunya. Dalam sepekan sebelumnya, beberapa mangga kutemukan di bawah pada pagi hari. Beberapa yang di tangkai kelihatan mulai dimakan “kalong”. Bahkan beberapa tetanggaku pu sudah mulai membicarakan manggaku ini, kenapa belum juga dipanen. Inilah pertanda buah manggaku siap dipanen.

Dengan berbekal satu tas plastik ukuran sekitar 5 kg, aku memanjatnya. Dengan segera penuh itu plastik dengan buah mangga. Ibu-ibu tetangga pada ngumpul di bawah. Aku bilang kepada isteriku agar sekalian dibagi saja itu mangga ke para tetangga.

Lumayan banyak juga mangga yang aku panen hari ini. Memang sempatnya hari libur saja. Alhamdulillah, bisa juga membagi-bagi mangga ke tetangga, walaupun harus “diratain” dalam arti dibagi sedikit-sedikit supaya merata karena jumlah tetangga yang harus dibagi cukup.

Aku juga sempat mengenang masa kecil, sewaktu aku makan mangga langsung di pohon mangga. Terasa kenikmatan tersendiri, daripada kalau sudah turun dari pohon. Belum puas kalau belum makan mangga di pohon mangga. Nggak mau kalah dengan kalong.

Setelah turun, aku baru sadar kalau kedua tangan dan kakiku penuh bergetah. Kaosku juga kotor sekali. Setelah membersihkan kedua tangan dan kali, aku sarapan nasi uduk dengan lauk tempe dan bakwan. Subhanallah, eunak sekali. Seperti orang sehabis kerja keras di ladang atau sawah, pulang dengan perut lapar dan makan dengan lahapnya. Memang hidup ini adalah kenangan.

August 15, 2006

Barakallahu laka

Filed under: Coretan

Barakallahu laka wa baraka ‘alaika, wajama’a bainakuma fi khair.
Setiap kali ada undangan walimatul ‘ursy kenapa ya hatiku bergetar.

Hari ini aku mendapat undangan dari seorang teman, bagus sekali undangannya. Sampai-sampai dia buat website khusus untuk undangannya.

Isinya lengkap banget. Mulai dari undangan, dalil, risalah nikah, artikel-artikel penyemangat, biodata kedua calon mempelai, denah lokasi, kolom komentar, sampai dengan count down detik demi detik menjelang pernikahan. Wow keren abis.

Semoga Allah memberikan keberkahan kepada Akhi Teguh dan Ukhti Nurul. Karena doa keberkahan ini melebihi doa-doa lainnya dalam pernikahan.

Tiga Pengamen

Filed under: Coretan

Tiga Pengamen

Di tengah kemacetan jalanan Jakarta
Di tengah kesibukan orang mencari harta
Di antara lagu cengeng pengamen jalanan
Ada tiga pengamen memikat nian

Ketika para pengusung hedonisme
Ketika para pengusung kebatilan
Ketika para pengusung kejahatan
Mengais di atas bis kota

Ada tiga pengamen memikat nian
Baju sederhana yang mereka kenakan
Wajah bersih yang mereka perlihatkan
Kesopanan yang mereka kedepankan
Lagu akhirat yang mereka nyanyikan

Mereka mengingatkan
Sebuah peristiwa besar
Mereka mengingatkan
Al Qur’an yang diturunkan

Allahummarhamni bil-qur’an
Waj’alhuli imaman wanuran
Wahudan warahmah

Kramatjati, 15 Agustus 2006

June 27, 2006

Tongseng Al-Muddatstsir

Filed under: Keluarga

Ahad, 25 Juni 2006

Mbak Mira, khodimat kami, pulang kampung untuk beberapa hari. Jadi, kami yang mengurus rumah kami sendiri, mulai dari menyapu, mengepel, memasak, mencuci piring, dan mencuci baju.

Isteriku yang melakukan itu semuanya. Aku hanya membantunya menguras dan membersihkan bak mandi.

Ahad pagi, setelah kami berjalan-jalan pagi untuk melemaskan kaki di Monumen, perut kami terasa lapar. Isteriku sudah menyiapkan bumbu-bumbu untuk masak pagi itu, mulai dari cengkeh sampai jinten. Hari ini dia akan masak tongseng dengan resep dari Bu Dhe.

“Sembilan ribu, ya!” kata isteriku seperti penjual tongseng kepadaku.

“Boleh,” jawabku, “tapi harus sudah matang dalam sepuluh menit, ya. Kalau lebih dari sepuluh menit mas nggak mau bayar. Lebih cepat ke tukang tongseng.” candaku.

Aku sampai ketiduran karena kelamaan menunggu tongseng buatan isteriku. Setelah terbangun, aku lihat ternyata belum selesai juga dia memasak.

Akhirnya aku turun tangan membantu isteriku. Kasihan dia mungkin kecapekan, apalagi perutnya sudah membuncit begitu. “Dik, dikasih nama apa nih tongseng?”

“Gak tau Mas, tongseng bengong.”

“Tongseng Al-Muddatstsir saja,” jawabku. Lalu aku mulai membaca surat Al-Muddatstsir sambil memasak tongseng itu. Aku teringat cerita seorang laki-laki yang dengan asyiknya memperbaiki pagar rumahnya sambil melantunkan ayat-ayat Al-Quran. Beberapa kali aku kembali ke ruang tengah untuk membuka mushaf karena lupa ayat selanjutnya.

Begitulah, sambil sesekali kami cicipi, kurang gula, kurang garam ya ditambahi. Giliran kol dan tomat yang masuk ke kuali.

Setelah bebrapa lama, akhirnya tongseng itu matang juga.

Buru-buru kami menyiapkan piring dan nasi sebagai teman tongseng itu. Sudah hampir jam 10.30, kami sarapan dengan lahap, sampai nambah nasinya. Sarapan sekaligus makan siang, biar irit.

Ternyata enak juga ya, tongseng buatan isteriku ini. Semoga menjadi berkah, tongseng Al-Muddatstsir.

Mengurus Akses

Filed under: Coretan

Jumat, 16 Juni 2006

Hari Kamis aku sudah mengisi fomulir pendaftaran Asuransi Kesehatan (Askes) untuk ditandatangani oleh Kasubag Umum. Hari Jumat aku jadi mengurus Askes.

Kantor Cabang Askes Jakarta Timur terletak di Jalan Balai Pustaka Timur, sekitar 200 meter dari Tip Top Rawamangun. Berangakat dari kantor jam sembilan pagi, aku sampai di sana sekitar jam setengah sebelas siang. Setelah semua persyaratan aku serahkan ke petugas, aku pergi ke Tip Top untuk memberi Prenagen buat isteriku yang sedang hamil tujuh bulan.

Setahuku, hanya Tip Top swalayan besar yang dimilki oleh pengusaha muslim. Mendengar cerita dari teman, Tip Top sangat padat pada tanggal-tanggal muda, pada masa-masa gajian. Setelah mengambil uang di Mandiri dekat PT Askes, aku pergi ke Tip Top. Masih jam sebelas kurang, masih sempat aku belanja sebelum sholat Jumat.

Aku perhatikan antrian di kasir tidak begitu banyak, jadi tidak perlu terburu-buru untuk antri. Tas gemblok-ku aku titipkan di penitipan barang. Penjaganya seorang akhwat, mungkin seusia anak SMU atau baru lulus SMU. Langsung aku menuju lorong makanan dan mencari prenagen kalengan. Aku telepon isteri, “Dik, di sini 63 ribu sekian rupiah, jadi beli nggak? Rasa apa saja?” Lalu aku membeli dua kaleng rasa strawberry, satu kaleng rasa coklat, dan satu kaleng rasa vanila. Tidak banyak, takut tidak muat tasku. Karena haus, aku membeli juga Vitazone. Aku tertarik iklannya yang botol Vitazone itu tidak rusak ketika diisi air panas. Sebagai tambahan, aku membeli juga Pocari Sweat sachet.

Selesai belanja, aku menuju masjid yang letaknya tidak jauh dari kantor Askes tadi. Rencananya, setelah jumatan aku baru mengambil kartu askesku. Baru jam sebelas lewat beberapa menit. Jalan menuju masjid ditutup portal sehingga hanya pejalan kaki yang bisa lewat. Jamaah sholat Jumat sepertinya sampai ke jalanan, sehigga aku melihat beberapa petugas masjid sedang menggelar terpal di jalanan depan masjid. Masjid itu sedang direnovasi.

Ketika akan melepas sepatu, mataku terantuk ke sebuah kotak berwarna hijau yang bertuliskan “kotak masuk surga”. Dengan harapan bisa masuk surga, aku masukkan selembar uangku ke dalam kotak infaq tersebut.
Ketika aku beranjak ke tempat wudhu, kembali mataku terantuk ke kotak kaca yang ukurannya lebih besar daripada kotak hijau tadi. Tingginya sekitar 70 cm. Itu kotak infaq pembangunan masjid. Kembali aku masukkan satu lembar uangku ke dalam kotak itu.

Masjid ini memperhatikan dengan cermat kebersihan tempat wudhu. Setidaknya ini terlihat dari air yang keluar dari lubang-lubang kecil pipa pralon yang dipasang di tempat keluar tempat wudhu. Baru tiga masjid yang aku temui mempunyai penataan tempat wudhu seperti ini. Pertama, Masjid Ukhuwah Islamiyah di kampus UI Depok. Yang kedua, Masjid Al-Huda di Cililitan, dan yang ketiga masjid ini.

Aku shalat di shaf pertama karena masih lapang, hanya beberapa bapak saja yang sudah datang duluan. Sekalian, supaya aku bisa menempatkan tasku dalam jangkauan pengawasan mataku. Maklumlah, di Jakarta kita harus berhati-hati, hattadi masjid sekalipun. Aku perhatikan jamaah masjid ini agak berbeda daripda jamaah masjid kebanyakan. Kebanyakan bapak yang aku lihat asyik dengan ayat-ayat Al-Qur’an yang mereka baca dari mushaf-mushaf yang berada di masjid itu. Subhanallah. Jarang aku temui keadaan demikian pada orang-orang tua, yang sudah berusia lanjut. Yang sering aku temui paling pemuda-pemuda yang membaca Al-Qur’an di masjid-masjid, terutama masjid-masjid kampus.

Tema khutbah hari itu adalah fenomena kelompok pendukung Gus Dur versus Front Pembela Islam. Stressing point-nya adalah agar umat Islam menjaga persatuan, dan tidak mau diadu domba.

Ba’da jumatan, pukul setengah satu siang, aku ragu apa makan siang dulu atau langsung ke PT Askes untuk emgnambil kartu Askesku. Aku putuskan langsung ke PT Askes, siapa tahuh pada jam istirahat ini ada petuga yang bisa melayani. Benar juga, setelah aku masuk, walaupun ada tulisan istirahat, aku bisa megnambil kartu askesku. Setelah itu, aku duduk di ruangan dan melihat kartu askesku dan kartu isteriku. Ada kesalahan penulisan nama isteriku, sehingga aku minta untuk diganti dengan yang benar. Aku bertanya apakah bisa ditunggu, petugas itu menjawab bisa.

Sambil menunggu, aku melihat-lihat sekeliling. Di sebelah kantor Askes terdapat apotek, mungkin apotek rujukan askes. Dari luar sepertinya terpisah, tetapi setelah masuk, keduanya bertemu, hanya sedikit pemisah di antara keduanya.

Aku melihat ke dinding dan tertarik pada tulisan di dinding. Ada tulisan Budaya Organisasi. Ada empat poin, yaitu: integrity, team work, service exccellent, dan continuous learning. Di sebelah kirinya ada tulisan 5 Sins of Service. Aku tidak berhasil menghafalnya karena letaknya agak jau dari kursi temapt aku duduk. Seingatku, ada poin: sibuk sendiri, menolak melayani, dan tidak ramah. Di sebelah kirinya ada tulisan bagaimana menghadapi komplain. Bagus juga, jika dibandingkan dengan kantorku sekarang ini, yang sama-sama kantor pelayanan.

Di kartu askes tedapat tanda tangan Kepala Kantor Cabang Jakarta Timur. Pada jam istirahat begini mungkin dia sedang makan di luar. Tetapi, ternyata tidak lama aku menunggu. Sekitar sepuluh menit aku sudah dipanggil dan mendapatkan kartu askes isteriku yang benar.

Terima kasih PT Askes atas pelayanan yang cepat dan mudah. Sekarang tinggal membuktikan pelayanan kesehatannya, apakah secepat dan semudah pelayanan pembuatan kartu askes.






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome | Theme designs available here